Sebuah pohon akhirnya menjadi pertimbangan kami. Seorang anak laki-laki muda yang tangguh menebang pohon itu. Setelah ditebang, maka kami mengumpulkan jengkol masing-masing. Buah jengkol yang dikumpulkan masing-masing itulah yang akan menjadi milik individu. Namun tiba-tiba semut yang cukup besar menggigit kulitku. Waw, ternyata banyak sekali semut yang ada di pohon itu. Meskipun ditunggu, semut itu tetap saja masih disana. Perlu waktu beberapa hari agar semut itu hilang. Hanya beberapa orang saja yang tetap mengumpulkan jengkol. Jujur, aku sudah tak mampu lagi karena gigitan si hewan kecil itu secara keroyokan. Tenagaku sungguh cukup terkuras. Kami duduk bersama dan mulai istirahat. Mereka memawa bekal makanan dari rumah. Ada yag membawa sayur rebung, dadar telur ataupun ikan. Aku tak membawa apa-apa. Hanya sebotol air minum. Seorang ibu memberikanku nasi dan juga sayur rebung. Aku mencoba untuk memakannya. Ternyata nyaman sekali rasanya. Kata ‘nyaman’ memang bisa dipakai juga untuk makanan yang artinya enak. Sungguh, ada sensasi yang berbeda ketika makan di ladang. Di lain itu, aku belajar tentang kebersamaan dalam mencari penghasilan. Tidak ada yang serakah ataupun egois. Berbagi. Berbagi dalam sebuah keterbatasan. Ratna menikmati makan siangnya kali itu. Ia belum makan sejak kami berangkat tadi. Aku tidak bisa membayangkan dulu ketika aku masih SD kelas 3. Terbersit sebuah pertanyaan. Mampukah aku untuk ikut bekerja sekeras ini? Di lain sisi, fisik mereka memang sudah kuat karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk kuat.
Ingin tahu perjuangan dalam mencari jengkol selanjutnya? Tunggu bagian lainnya.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar