Rabu, 27 September 2017

Lelah Setengah Mati (Akhir)

Tiba saatnya aku akan ke penempatanku di Jongkong. Sedih memang meninggalkan tempat ini yang sudah cukup dekat beberapa hari ini. Inilah perjuangan yang sebenarnya. Ada guru dari Jongkong yang akan menjemputku ke sini, Pak Alfius namanya. Lelah yang sebenarnya belum hilang, harus aku nikmati dengan senang hati. Jalan yang dilalui semakin sempit, hanya cukup untuk sebuah motor saja. Ada 2 jembatan yang harus kami lalui. Sebelumnya jalan masih semen, tapi semakin lama, hanya jalan tanah. Belum lagi jika jalan lumpur, harus menepi mencari jalan yang lebih baik. Ketika jalan naik turun, aku memutuskan untuk turun dari motor. Bayangkan saja, jalan yang menurun lalu di ujungnya adalah sungai. Jalanan ini bukan jalan rata, namun penuh dengan bebatuan kecil dan juga tanah yang agak basah. Jika ada jalan yang tinggi, ketinggiannya bisa aku prediksi sekitar 40 derajat.
Akhirnya, lelahku sirna setelah aku melihat beberapa rumah. Kami sudah memasuki perkampungan. Tak jauh setelah melewati rumah pertama tadi, aku sampai di rumah guru yang akan kutinggali selama setahun kedepan. Sebelum rumah guru, ada sebuah bangunan sekolah. Inilah SD tempatku bertugas. Sesampainya di sana, ada ladang yang memang harus dibakar untuk lahan baru. Maka aku memutuskan untuk ikut ke ladang. Untuk pergi ke ladang, memang harus berjalan kaki. Ladang ini termasuk dekat. Setelah menyeberang sungai, perjalanan sekitar 15 menit saja. Ya, di depan sekolah ada lapangan sepak bola. Di sebelahnya ada sungai yang mengalir. Jernih sekali, Sungai Sasak namanya. 
Terima kasih pelatih di AAU yang sudah mengajarkanku begitu banyak pelajaran terlebih mental yang tahan banting, fisik yang kuat dan juga semangat yang tak pernah padam.Terima kasih masyarakat di Landau Sadak yang walaupun hanya beberapa hari namun sudah menerimaku sebagai bagian dari mereka. Saat ini, perjuanganku tidak lama lagi. Ada perasaan rindu yang aku rasakan jika suatu saat aku sudah tidak berada di sini lagi. Saat ini sudah ada penggusuran jalan lewat arah lain sehingga jika akan ke Nangapinoh lebih cepat lagi yakni hanya sekitar 3 jam. Terima kasih aku boleh melalui awal yang begitu melelahkan. Aku yakin perjuangan yang keras saat ini akan terbayar indah pada saatnya nanti
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY30




Minggu, 24 September 2017

Lelah Setengah Mati (3)

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Setiap daerah memiliki aturannya masing-masing. Aku sebagai orang baru di sini tentunya berusaha untuk mengikuti tata acara yang ada di tempat ini. Keterampilan sosial merupakan salah satu kunci agar kita bisa masuk ke dalam situasi lingkungan yang baru. Sebagian besar masyarakat di sini adalah seorang petani ladang. Saat itu beberapa keluarga memang sedang nugal atau tabur benih. Jika di sini, nugal bisa diikuti oleh 30an sampai 50an orang. Aku berusaha mengikuti Bu Priska ke tempat orang yang nugal untuk membantu masak di sana. Meskipun aku hanya ikut saja, namun aku mulai bertemu dengan lebih banyak orang baru. Aku mencoba untuk membantu pekerjaan yang aku pikir bisa aku lakukan.
Menjadi guru SM-3T bukan hanya berada di kelas. Lebih daripada itu, menjadi guru yang menembus tembok-tembok itu dan membaur dengan masyarakat lokal. Aku menyadari di sini memang bukan tempatku bertugas namun aku mendapatkan keluarga baru di sini. Beberapa hari di Landau Sadak, aku mengenal banyak orang. Sempat waktu itu aku ikut ke ladang untuk melihat proses nugal yang dilakukan orang-orang. Para bapak membawa kayu yang ujungnya dibuat runcing. Sambil berjalan, mereka membuat lubang di tanah menggunakan kayu itu. Bagi yang perempuan, membawa benih padi untuk ditaburkan di tempat yang sudah dibuat oleh bapak-bapak tadi. Jangan kira jalannya hanya lurus saja. Ladang di sini cukup luas dan posisinya juga miring. Jadi nugal ini jalannya harus turun, lalu naik, lalu turun lagi. Melelahkan bukan? Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat sekitar. Jadi jika aku melihat saja sudah lelah, mereka bahkan tidak pernah mengeluh lelah. Lingkungan perbukitan seperti ini tentu sudah melatih fisik orang-orang di sini menjadi lebih kuat. Terkadang aku malu pada diriku sendiri melihat orang yang lebih tua dariku saja masih semangat untuk naik turun tabur benih.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY29

Sabtu, 23 September 2017

Berkarya di Pelosok Nusantara

Beberapa hari selesai dari prakondisi, aku akan segera menuju Melawi, kabupaten penempatanku. Hari itu, siang hari kami bersama-sama berangkat dari Bandara Adisudjipto menuju Bandara Supadio Pontianak. Bagiku, kota yang dilewati garis katulistiwa ini sudah seperti rumah kedua. Beberapa kali aku memang sempat ke kota ini. Maklum, kedua orang tuaku tinggal di Menjalin, sekitar 2 jam dari Pontianak. Jadi, rasanya sudah tidak asing lagi dengan cuaca yang agak panas serta sungai yang lebar seperti susu coklat ini. Entah mengapa, namun aku sudah merasa dekat dengan pulau borneo ini. Kata orang, jika sudah minum air Sungai Kapuas, akan kembali ke tempat ini lagi. Setelah 1 jam 40 menit kami di pesawat, pada sore hari sudah mendarat dengan selamat. Perjalanan dilanjutkan menggunakan bis kurang lebih 10 jam. Malam itu aku merasa cukup lelah. Rasanya kemarin sewaktu prakondisi saja, waktu istirahat sangat kurang. Hanya selang beberapa hari langsung menuju penempatan.
Mataku terbuka ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Malamnya kami memang singgah di Sanggau, tempat istirahat jika perjalanan dari Pontianak ke Melawi atau sebaliknya. Dulu aku hanya pernah sampai di Sintang. Kabupaten Melawi merupakan pemekaran dari Kabupaten Sintang. Aku membaca sebuah tulisan di jalan, Simpang Pinoh. Dari tempat ini jika lurus akan menuju ke pusat kota Sintang. Namun jika belok ke kanan akan menuju Nangapinoh, ibukota Kabupaten Melawi. Setelah sekitar 1 jam, kami sampai di Dinas Pendidikan Kabupaten Melawi. Setelah itu dilanjutkan acara pembukaan dan juga pembagian tempat mengajar. Ada 11 kecamatan yang ada di sini. Aku ditempatkan di SDN 13 Jongkong yang terletak di Desa Nangaraku, Kecamatan Sayan. Saat itu, banyak kepala sekolah ataupun wakil dari sekolah yang menjemput kami. Aku lalu bertemu dengan Pak Lesi, kepala sekolah yang akan mengantarkan menuju tempat tugasku.
Barang-barangku akan dititipkan bis yang melewati kecamatan. Sedangkan aku bersama dengan Pak Lesi menaiki sepeda motor. Belum lama kami melewati jalan ini, motor yang kami tumpangi mendadak macet. Sepertinya mesin motor ini perlu diperbaiki. Setelah bisa, tak berapa lama macet lagi. Aku mengusulkan agar dibawa ke bengkel. Namun memang di sekitar jalan itu tak terlihat olehku rumah ataupun sekedar tempat. Aku hanya melihat pohon-pohon. Kendaraan yang melewati jalan itupun dapat dihitung. Rasanya aku sudah ingin berbaring di kasur yang empuk dan minum es krim yang lezat. Cuaca saat itu sangat panas. Apa yang bisa aku lakukan di saat seperti ini? Berdoa, ya hanya berdoa agar ada bantuan yang datang.
Beberapa saat berlalu, ada seorang anak muda yang berhenti. Ternyata dia adalah keponakan dari Pak Lesi. Lalu aku berganti naik motor dengan anak muda ini. Sungguh, rasanya aku sudah sangat ingin sampai. Beberapa kali aku menanyakan apakah masih jauh atau tidak. Jalan yang aku lalui sudah tidak lagi aspal. Ada lubang di sana sini. Ditambah lagi jalanan dengan bebatuan seperti ini. Rasanya aku sudah mau turun dari motor dan jalan kaki. Sekitar 1,5 jam dari Nangapinoh, kami beristirahat di daerah yang bernama Pintas. Daerah ini merupakan tempat istirahat bagi orang-orang yang akan ke Nangapinoh atau sebaliknya. Cukup banyak warung yang ada di sini, namun tidak ada signal sama sekali.
Perjalanan kembali dilanjutkan menuju arah Kecamatan Sayan. Jalanannya tidak lebih baik dari yang sebelumnya. Ketika itu, aku menunggu di lapangan kecamatan sembari menonton pertandingan sepak bola. Tak berapa lama, barang-barangku yang dititipkan bis tadi sudah diambil. Aku lega. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Lalu aku akan menuju ke rumah Pak Lesi terlebih dahulu di daerah Landau Sadak. Aku akan berada di Landau Sadak sekitar 1 minggu. Saat itu musim nugal atau tabur benih di ladang. Jarak dari Landau Sadak sampai ke Jongkong sekitar 1 jam lebih namun jalan yang dilalui lebih sempit dan tidak memungkinkan bagi kami untuk melakukan perjalanan malam. Ini cukup beresiko.
Sekitar jam 7 malam aku sudah sampai di rumah Pak Lesi. Aku disambut oleh istrinya, Bu Priska. Aku sudah terlalu lelah hingga rasanya kaki ini mati rasa. Jalan dari kecamatan ke Landau Sadak sangat parah. Jalan penuh dengan lumpur dan juga naik turun. Beberapa kali aku berusaha menahan nafas untuk tidak bergerak agar kondisi tetap seimbang. Jika aku terlalu banyak gerak, bukan tidak mungkin motor akan tergelincir. Ketahanan fisik tentunya menjadi hal yang utama sebagai guru yang ditempatkan di daerah terpencil seperti ini.
Aku belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Paling tidak juga dengan makanan yang rasanya tentu berbeda dengan cita rasa makanan jawa. Setelah membersihkan diri dan juga mengisi perut yang kosong, aku rasanya ingin tidur saja. Kuurungkan niatku. Aku masih menyempatkan waktu untuk berbicara dan saling mengenal dengan beberapa orang baru yang kutemui. Berani. Itulah yang sebenarnya diperlukan untuk mampu menembus sekat-sekat yang ada. Kesadaran sebagai satu bangsa dan juga satu tanah air tercinta ini menguatkanku untuk melakukan yang terbaik selama bertugas di sini. Indonesia ini sangat kaya akan kebudayaan, adat istiadat, bahasa dan juga suku bangsa. Keyakinan akan tujuan yang sama membuatku menjadi lebih semangat. Menjadikan Indonesia lebih baik lagi.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY28

Jumat, 22 September 2017

Lelah Setengah Mati (2)

Aku mendaftarkan diri melalui LPTK UNY yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku di Yogyakarta. Setelah melalui seleksi yang cukup lama, maka aku terpilih menjadi salah satu guru SM-3T. Namun, masih ada tahapan akhir yang harus aku lalui yakni prakondisi. UNY bekerjasama dengan AAU Adisudjipto untuk menyelenggarakan pelatihan ini. Tujuan dari prakondisi yakni melatih mental, fisik, serta pembekalan berbagai materi yang sangat berguna ketika berada di penempatan nantinya. Selama sekitar 17 hari di AAU ini, kami dilatih secara semi militer. Misalnya saja ketika jam makan harus berbaris menuju tempat makan. Jangan ditanya, porsi yang diberikan bagiku itu cukup banyak. Jika tidak bisa menghabiskan, pembina akan memberikan air ke dalam ‘ompreng’. Ompreng adalah sebuah tempat makan dari bahan aluminium yang berisi nasi, sayur, lauk, buah, dan juga minuman. Sebenarnya makanan itu sangat menyehatkan. Namun di sisi lain terkadang perut ini masih kenyang untuk diisi makanan sebanyak itu. Alhasil, pada makan malam pertama pun aku tak mampu menghabiskan makanan itu.
Dalam keluargaku, aku tidak pernah dipaksa atau dididik dengan kekerasan. Hal ini berbeda dengan di AAU. Kerap kali aku mendengar teriakan, sindiran, serta hukuman fisik. Awalnya memang ini hal yang sangat tidak membuatku nyaman. Hari kedua membuat semangatku redup hingga hampir putus asa. Di sela-sela istirahat, seorang pelatih menghampiriku dan memberiku motivasi serta pemahaman bahwa ini hanya pembentukan mental, jadi tidak usah diambil hati. Beberapa pelatih yang lain selalu memberikanku semangat setiap hari dan menempaku menjadi pribadi yang tahan uji. Akhirnya, aku bisa berdamai dengan keadaan dan menjalani hari-hari di AAU dengan senang. Tak terasa pelatihan di AAU hampir selesai. Kami akan ditugaskan ke pelosok negeri.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY27

Rabu, 20 September 2017

Kita Keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Selamat pagi Emak
Selamat pagi Abah
Mentari hari ini berseri indah

Terima kasih Emak
Terima kasih Abah
Untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti

Itulah sepenggal lagu tentang keluarga yang masih saja tak lekang oleh jaman. Makna yang ada dalam lagu itu patut kita renungkan.
     Keluarga sendiri bukan hanya karena ada saudara kandung atau ada pertalian darah. Namun, orang yang baik, penuh perhatian kepada kita, bisa kita sebut keluarga. Aku bersyukur menjadi bagian dari keluarga yang sederhana dan penuh cinta.
     Family : Father and Mother I Love You. Keluarga memang merupakan tempat yang nyaman dan membuat kita merasa aman. Namun kini, arus globalisasi dan modernisasi membuat kita lebih jauh dari keluarga. Jarak yang jauh sudah dapat diatasi dengan adanya komunikasi. Dapatkah itu menggantikan kebersamaan ketika bertemu langsung?
     Saat ini kita cenderung sibuk dengan gawai masing-masing sehingga kurang peduli dengan sekitar, bahkan keluarga kita. Sesuatu yang memudahkan kita untuk lebih dekat dengan keluarga, jika kita salahgunakan malah dapat membuat hubungan menjauh. Apakah kita seperti itu? Ataukah kita bisa lebih bijak menggunakan teknologi untuk membangun relasi yang lebih akrab dengan keluarga?
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY25

Selasa, 19 September 2017

Minuman Kekinian

     Media sosial nyatanya sekarang menjadi hal yang mutlak diperlukan orang. Melalui media sosial, segala berita akan cepat menyebar dan bisa menjadi viral dengan mudah. Begitu juga halnya dengan kuliner. Sebuah makanan ataupun minuman bisa menjadi sangat terkenal dan dicari banyak orang hanya melalui penyebaran informasi media sosial.
     Minuman yang satu ini menggunakan bahan mangga sebagai bahan utamanya. Dengan tambahan lainnya, minuman ini dijual dengan harga yang sesuai. Terkadang ada hal yang tidak masuk akal, cenderung lucu. Seorang bapak yang rela memesankan minuman kekinian itu untuk sang istri. Bahkan rela membayar berapapun harganya, ketika stock minuman tidak ada. Hanya demi sebuah minuman. Ada juga seorang perempuan yang sudah hampir menangis ketika mendapati minuman itu sudah habis.
      Begitu banyak cerita lucu yang terjadi. Media sosial begitu luar biasa memberikan pengaruh. Belum tentu apa yang ada di dalamnya adalah sebuah kebenaran. Tentunya banyak juga informasi yang perlu kita saring. Minuman yang sederhana dengan balutan kreativitas dan promosi di media sosial memberikan pundi-pundi rupiah bagi pemiliknya.
     Minuman kekinian bisa diciptakan melalui tangan-tangan yang sadar akan peluang dan memanfaatkannya. Bagaimana dengan kita? Apakah akan menjadi konsumen minuman itu? Yang bahkan rela antre lama-lama? Ataukah menjadi pemenang yang memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan? Patut kita renungkan di era digital ini.

Senin, 18 September 2017

Mahasiswa dan Pekerjaan Paruh Waktu

     Mahasiswa yang luar biasa tentunya mahasiswa yang tidak hanya menjadi kupu-kupu. Kuliah pulang, kuliah pulang. Namun juga dapat memiliki penghasilan di sela-sela kesibukan kuliahnya. Aku ingin bercerita tentang pekerjaan paruh waktu yang pernah aku jalani selama ini. Sebagai seorang mahasiswa, aku pernah bekerja juga memberikan les kepada anak-anak secara privat. Selain itu aku bahkan pernah bekerja paruh waktu di sebuah restoran dan juga laundry.
     Mengapa hal itu bisa terjadi? Selama ini aku menutup mata terhadap hal-hal yang ada di sekitarku. Kemungkinan karena kesibukan aktivitas perkuliahan. Ketika aku memiliki waktu yang cukup longgar, aku iseng mencari pekerjaan paruh waktu. Berbagai pekerjaan kulakoni demi sebuah pengalaman dan menjalani proses belajar.
     Pekerjaan paruh waktu yang masih berhubungan dengan jurusanku adalah memberikan les pada anak SD. Hal ini tentunya tidak jauh berbeda dengan yang aku pelajari di kampus. Namun, beberapa pekerjaan lainnya sama sekali tidak berhubungan dengan mengajar. Aku pernah bekerja di sebuah tempat makan menjadi juru masak. Ketika itu masih masa pelatihan. Namun, akhirnya aku hanya mampu bertahan selama 7 hari. Pekerjaan lainnya yang pernah kucoba adalah menjaga laundry. Hal yang dilakukan mulai dari mencuci, menjemur, setrika. Pekerjaan semacam ini lebih menuntun ketahanan fisik yang kuat. Tidak heran jika akibatnya tubuhku terasa pegal-pegal.
     Kini, aku menjalani pekerjaan paruh waktu di sebuah stand minuman yang sedang menjadi minuman kekinian. Tentunya banyak orang yang ingin membelinya. Sehingga pekerjaan ini memerlukan tenaga fisik yang cukup kuat. Hal ini aku lakukan untuk mengisi kekosongan waktu sebelum aku masuk asrama. Asrama yang membuatku menjadi mahasiswa lagi. Mahasiswa untuk pendidikan profesi. Mungkinkah aku akan menjalani pekerjaan paruh waktu lainnya selama menjadi mahasiswa nantinya? Semoga.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY23

Minggu, 17 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (11)

Saya merasakan kebaikan dari orang-orang Pulau Besar ketika bertemu di jalan atau pun berkunjung ke rumah mereka. Mereka selalu memberi dari apa yang mereka punyai, entah makanan atau minuman. Di pulau ini, saya merasakan sapaan dari warga yang sungguh ikhlas dan menyentuh. Satu pengalaman tak ternilai ialah bahwa saya merasa menjadi bagian dari keluarga mereka.
Memang, tinggal di pulau terpencil, tidak tanpa kesulitan. Malah, kesulitan dan hambatan sangat banyak. Ketika saya menghadapi kesulitan, saya selalu ingat ada saudara-saudara lain yang hidupnya jauh lebih sulit dari saya.
Dulu, saya lalai mensyukuri hal-hal kecil yang menjadi rutinitas dalam hidup saya, misalnya, listrik yang selalu menyala, sinyal hp yang mudah didapat, air bersih yang melimpah, dan akses transportasi yang lancar. Pengalaman setahun di pulau terpencil mengajar saya untuk bersyukur.
Di Pulau Besar, saya berusaha untuk sabar dan berdamai dengan keadaan dan menjalani tugas-tugas dengan rasa gembira. Lebih khusus, ketika saya dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan dalam mengajar anak-anak, saya berusaha memahami bahwa tiap murid saya adalah pribadi yang unik.
     Mengenal berbagai karakter dan sifat mereka yang polos menjadi sebuah keberuntungan bagiku yang tidak pernah bisa digantikan dengan apapun. Tinggal bersama masyarakat di sana menjadi sebuah kemewahan tersendiri. Terima kasih, Pulau Besar. Terima kasih Indonesia atas keindahan pesonamu dan juga keberagaman di dalamnya.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY22

Sabtu, 16 September 2017

Kamus Pribadi

     Pernahkah kamu membayangkan tinggal di suatu tempat yang tidak kamu kenal sebelumnya? Pernahkah kamu memikirkan sebuah tempat yang nun jauh disana? Tinggal sendirian tanpa orang yang belum kamu kenal. Bertemu dengan masyarakat yang berbeda suku dan bahasa. Aku pernah.
     Bahasa menjadi kunci penting bagi komunikasi. Mereka khususnya yang masih anak-anak dan juga orang tua, tentu tidak terlalu bisa menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Aku pernah tinggal di 2 tempat yang sunggu berbeda. Yang satu di sebuah pulau, tepi laut. Pulau itu adalah Pulau Besar, sebelah utara Maumere, Flores. Yang satunya adalah sebuah pelosok pegunungan di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
     Aku tinggal di kedua tempat tersebut masing-masing sekitar satu tahun lamanya. Hal yang membedakan anak-anak di pantai dan di gunung adalah karakteristik sifatnya. Anak-anak pantai cenderung berani, ekspresif dan penuh semangat. Sedangkan anak-anak gunung cenderung lebih pemalu, dan bekerja keras membantu orang tua mereka.
     Hal yang sama ketika aku berada di dua tempat itu adalah membuat kamus pribadi. Aku berusaha untuk memahami kearifan lokal dan juga masyarakat di sana melalui bahasa daerah. Ketika di NTT aku membuat kamus bahasa Sikka. Sikka adalah nama kabupatennya dan juga salah satu suku di daerah sana. Berbeda dengan Kalimantan yang sebagian adalah suku Dayak. Suku Dayak memiliki banyak sub suku lagi yang tentunya memiliki bahasa yang berbeda. Sebagian masyarakat tempatku tinggal merupakan Dayak Pangin. Aku meminta anak-anak untuk membantuku membuat kamus bahasa Dayak Pangin.
     Alhasil, akupun mulai belajar bahasa melalui kamus pribadiku yang aku buat dari bantuan orang sekitar. Tentunya masih banyak bahasa daerah lainnya di tanah ibu pertiwi ini. Bahasa daerah apa saja yang sudah kamu ketahui? Siapa yang akan peduli, jika bukan kita. Atau menunggu sampai direbut bangsa lain?
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY21

Jumat, 15 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (10)

Ada banyak pengalaman. Satu di antaranya yaitu pada suatu pagi waktu akan masuk sekolah, aku melihat seorang anak perempuan kelas 1 bernama Stella sedang menangis. Aku menanyakan alasannya menangis. Lalu ia mengatakan bahwa Santus, seorang teman laki-laki, telah memukulnya. Kemudian aku mendekati Santus dan dengan hati-hati, aku berbicara kepadanya agar meminta maaf pada Stella. Santus dengan cepat mendekati Stella dan meminta maaf kepadanya. Ini adalah suatu kejadian mengesankan saya. Aku mengalami bahwa aku bisa menyentuh hati anak-anak, karenanya mereka melakukan yang baik yang saya ajarkan.
Setiap malam, anak-anak belajar di rumah guru. Ketika lampu listrik menyala, tidak berapa lama anak-anak akan mengetuk pintu sambil memanggil nama kami. Kami mendampingi mereka belajar. Kadang mereka secara halus kami minta pulang kalau sudah agak larut malam. Benar, anak-anak haus pengetahuan. Mereka haus bimbingan. Dan pengalaman-pengalaman seperti ini membuat saya sungguh meraskan apa artinya menjadi mengajar, apa artinya menjadi seorang pendidik.
Satu Kata: Syukur!
Saya tinggal di Pulau Besar selama satu tahun. Ada banyak hal yang menjadi pembelajaran bagi hidup saya selanjutnya.  Hubungan dengan guru-guru di SDK Gusung Karang dan guru-guru di gugus sangat baik. Saya dapat meminta bantuan kepada mereka ketika saya mengalami kesulitan. Ketika saya mengajar di sekolah yang letaknya di Gusung Karang yang jaraknya kurang lebih 30 menit berjalan kaki, guru-guru di sana  mengajak saya  singgah di rumah mereka. Dalam mengajar pun, banyak hal yang saya tanyakan baik mengenai metode pengajaran yang selama ini dipakai hingga cara menangani anak-anak. Di Pulau Besar, selama setahun saya ada bersama dan bekerja dengan orang-orang baik.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY20

Rabu, 13 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (9)

Mendidik dan Mengajar
Dalam beberapa minggu awal di Pulau Besar aku merasa kesulitan dalam mengajar di sebuah kelas. Sebagian anak sudah bisa membaca namun sebagian lainnya belum hafal huruf. Mereka belum bisa membaca dengan lancar. Akhirnya, aku memisahkan anak yang sudah bisa baca dengan yang belum bisa baca. Anak-anak yang sudah bisa baca perlu mendapatkan pengayaan dengan lebih banyak baca dan berlatih. Sedangkan anak-anak yang belum bisa baca, perlu pendampingan khusus untuk mengenal huruf.
Di SDK Gusung Karang, saya mengajar pagi hingga siang. Sore harinya, saya mengajar ekstrakurikuler catur. Kegiatan-kegiatan sore hari yang kami buat antara lain mengembangkan majalah dinding, musik, Bahasa Inggris, dan pramuka. Malam hari, anak-anak belajar di rumah kami. Hal lain yang kami lakukan adalah menata ulang perpustakaan sekolah sehingga anak-anak dengan mudah meminjam buku-buku. Setiap hari Sabtu, ada pemeriksaan gigi dan kuku murid-murid. Setelah itu senam dan dilanjutkan dengan olahraga. Pada hari itu juga dilakukan kegiatan membersihkan lingkungan sekolah. Untuk menumbuhkan semangat dan daya kompetisi di antara siswa, kami juga mengadakan berbagai perlombaan sebelum liburan kenaikan kelas.
Saya berusaha memberikan motivasi-motivasi sederhana untuk murid-murid saya. Salah satunya mendorong mereka untuk membaca. Suatu waktu, aku mengatakan bahwa kalau ada hal yang kita tidak tahu, maka kita dapat bertanya pada buku. Kala itu seorang murid, Adven namanya, langsung menatap bukunya sambil berkata, “Buku, ganupae?” artinya buku, bagaimana ini? Aku tak pernah membayangkan ada anak sekreatif dan lucu seperti ini. Karena itu, saya harus menjelaskan bahwa yang saya maksudkan bertanya kepada buku adalah dengan cara membaca buku-buku.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY19

Artis Juga Manusia

  Apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar kata 'artis'? Pastilah sosok yang dikagumi dan menjadi idola bagi banyak orang. Saat seorang artis idola berada di dekat kita, paling tidak kita akan berfoto dengannya lalu dibagikan di media sosial agar orang lain tahu.
     Begitu banyak artis di Indonesia. Seolah menjadi sosok yang menjadi teladan bagi banyak orang. Di sisi lain, artis adalah seorang manusia biasa. Mereka juga memiliki rasa lelah, ketika dihadapkan dengan begitu banyak jadwal kegiatan. Padahal ketika sudah di depan penonton, dituntut untuk maksimal.
     Tingginya harapan penonton terhadap artis terkadang menjadi beban tersendiri. Tidak jarang mereka menggunakan obat terlarang untuk meningkatkan stamina ataupun rasa percaya diri. Beberapa waktu yang lalu, marak diberitakan artis yang terjerat narkoba. Inikah sosok yang dielukan?
     Manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya. Begitu pula artis. Seseorang yang berkecimpung di bidang seni. Mereka yang begitu populer dan menjadi tren kekinian. Apapun itu, kita tentu bisa lebih bijak mencontoh sikap artis. Sayangnya, generasi kini lebih seolah latah dengan apa yang dilakukan artis. Misalnya begitu banyak artis yang memiliki bisnis makanan. Bahkan sampai antre lama hanya untuk makanan yang katanya punya 'artis'.
     Bagaimana denganmu? Tentunya kita bisa mengambil hal-hal yang positif dari seorang artis. Hal yang negatif, abaikanlah. Mungkin sekilas kita melihat kehidupan artis itu menyenangkan. Namun, tentunya mereka juga memiliki masalah. Memiliki kehidupan pribadi yang tidak harus diketahui semua orang. Jadi, tertarik menjadi artis ?
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY18

Senin, 11 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (8)

Program Bentara Cahaya bertujuan untuk pertama mengembangkan minat anak-anak dalam membaca, menulis dan berhitung. Membaca merupakan pintu untuk melihat dunia. Melalui membaca anak-anak dapat mengetahui banyak hal. Apa jadinya untuk anak-anak yang tak bisa membaca dan menulis? Kedua, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Namun, kepada kami diberikan peluang untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain yang membuat sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan nilai menjadi lebih baik.
Minggu 19 Oktober, 2014. Siang itu, kami berada di Candraditya di Maumere, baru pulang  mengikuti acara wisuda di Jogjakarta. Sebuah kabar duka kuterima. Kabar yang sangat mengagetkanku dan membuat aku kehilangan semangat. Ya, Pak Kim, Direktur Utama Indosiar TV, yang menyemangati dan mengajak kami untuk ambil bagian dalam Program Bentara Cahaya berpulang, sangat mendadak.  Awalnya seperti mimpi, aku tak percaya akan berita duka ini. Tapi inilah kenyataan, inilah hidup manusia. Requiescat in Pace, Semoga Pak Kim Beristirahat dalam Damai.
Syukur bahwa Romo Eman Embu SVD, pendamping kami di Flores, memberikan semangat. “Kita semua sangat sedih dengan kepulangan Pak Kim yang begitu mendadak. Tapi kita pastikan bahwa program ini akan terus dilanjutkan. Memang, Pak Kim punya andil besar. Tapi, ini adalah program CSR Indosiar, bukan program pribadi,” katanya meyakinkan kami.  Artinya, Bentara Cahaya akan tetap membawakan cahaya ke sudut-sudut gelap negeri ini.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY17

Minggu, 10 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (7)

Ya, terima kasih atas penyambutan hari ini yang membuatku merasa berarti di Pulau ini. Kata-kata yang selalu mengingatkan saya akan tujuan kedatangan saya ke Pulau ini. Ya, semua ini adalah karena anak-anak. Merekalah alasan bagiku untuk berada di sini, tinggal di sini selama satu tahun. Dan hari ini menjadi hari yang sangat berkesan dan akan terkenang selama hidupku. Pertemuan kami hari ini, di sini, menembus jarak, budaya, bahkan agama sekali pun. Di balik semuanya adalah satu tujuan atau ikhtiar akan  pendidikan anak-anak yang lebih baik dan bermutu.
Bentara Cahaya
Program yang aku ikuti ini adalah sebuah kerjasama antara Indosiar TV dengan Caritas Maumere dan Universitas Sanata Dharma. Indosiar TV menunjukkan tanggung jawab sosialnya di bidang pendidikan dengan mengutus guru-guru ke daerah terpencil.
Kenyataannya, pengutusan guru-guru ke Pulau Besar punya kaitan dengan respon kemanusiaan terhadap letusan Gunung Rokatenda dimana sebagian warga direlokasi ke Pulau Besar. Sekolah terdekat dari kampung relokasi, yaitu, SDK Gusung Karang memerlukan tambahan guru. Kebutuhan akan guru-guru seperti ini dan kebutuhan serupa di tempat lain telah memicu lahirnya program Bentara Cahaya.
Nama program guru-guru untuk sekolah-sekolah terpencil dan tertinggal ini mempunyai cita-rasa Flores. Nama ini mengingatkan dua nama surat kabar kebanggaan masyarakat Flores pada tahun 1950an dan 1970/1980an, yaitu Bentara dan Dian. Bentara berarti pembawa atau penjaga. Dian adalah cahaya. Bentara Cahaya adalah pembawa cahaya atau terang memerangi kegelapan dan kebodohan. Juga ia adalah pemelihara kelip-kelip terang yang  sudah ada di banyak komunitas. Saya tidak pernah membayangkan telah menjadi bagian penting dalam sebuah rencana Bentara Cahaya Indosiar TV yang begitu mulia untuk negeri ini.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY16

Sabtu, 09 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (6)

Menyeberang ke Pulau Besar
Rabu, 23 September 2014. Pagi ini kami berangkat dari Maumere menuju ke Pulau Besar via Pelabuhan Nangahale. Romo Cyrilus sudah menjemput kami di Candraditya di rumah para romo SVD tempat kami menginap. Perjalanan dari Candraditya menuju sebuah dermaga Nangahale ditempuh selama kurang lebih 1 jam.
Pemandangan di Nangahale pagi ini dan perjalanan ke Pulau Besar melahirkan rasa kagum. Lautan yang dikelilingi pulau-pulau. Bentangan patai dengan pasir putih nan indah. Pohon yang tumbuh di tengah laut. Bukit-bukit yang tinggi. Air laut yang bersih dan sangat jernih.
Setelah kurang lebih 1,5 jam duduk di atas perahu motor sambil dimanjakan pemandangan yang indah, di dermaga Kampung Nanga, aku melihat barisan anak-anak memakai seragam merah putih dan juga seorang guru laki-laki. Lahir rasa terharu dan juga tersentuh dalam diriku. Kami disambut dengan sangat luar biasa. Aku melihat banyak orang, para warga masyarakat, dan warga SDK Gusung Karang. Seorang anak mengalungkan sebuah selembar yang sangat cantik ke leherku. Lalu sebuah tarian adat, Hegong, ditarikan oleh oleh ibu-ibu dan dua orang lelaki dewasa menyambut kami.
Sampailah kami di rumah sederhana yang disediakan untuk kami. Sebelum masuk rumah, kami diberi sapaan adat dan direciki dengan air buah kelapa muda. Acara dilanjutkan ke sebuah lapangan tidak jauh dari rumah guru. Lalu kami diberi waktu untuk memperkenalkan diri. Pada akhir perkenalanku, aku mengucapkan epen gawan, kata Bahasa Sikka, yang berarti terima kasih. Serentak semua orang tertawa. Rasanya, aku sudah mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang Romo Eman ajarkan tadi malam di Candraditya. Namun, ternyata yang benar adalah epan gawan. Epen artinya perasaan acuh atau tidak peduli. Pantas saja semua orang tertawa.
Di tempat acara terbentang sebuah spandung dengan tulisan yang sungguh menyentuh hatiku: Selamat Datang guru-guru daerah terpencil untuk SDK Gusung Karang, Pulau Besar, Kabupaten Sikka, NTT.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY15
#

Pionir dan Pembuat Sejarah (5)

Pagi itu pukul 5, langit Jogjakarta masih gelap. Malam sebelumnya, aku tidak bisa tidur memikirkan keberangkatanku hari ini. Aku diantar Budhe Ratmi dan Kak Astri menuju bandara Adisucipto. Ada perasaan sedih dan juga haru. Sedih karena harus berpisah dengan keluarga tercinta, namun juga senang dan bangga karena aku boleh menerima tugas ini. Tugas yang tidak mudah dan tidak semua orang mau. Cecil dan Wulan sudah menunggu di bandara. Dari pihak Indosiar ada Ibu Luh (staf CSR), Ibu Windu (reporter) dan juga Pak Jhon (kameraman).
Kami berangkat dari Jogjakarta menuju Maumere, transit di Denpasar. Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Frans Seda, Maumere. Aku sangat kaget melihat anak-anak menyambut dengan antusias. Perasaanku campur aduk antara sedih, senang, dan terharu. Dalam hati saya menyampaikan terima kasih kepada anak-anak dan ibu guru yang menyambut kedatangan kami.
Sesudahnya, kami bertemu dengan Romo Cyrilus yang mendapat tugas pelayanan khusus di Pulau Besar. Bersama beliau, kami bertemu dengan Bapa Uskup Maumere, Mgr. Kherubim Pareira SVD. “Semoga kalian dapat berkarya untuk kepentingan anak-anak, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Guru-guru umumnya tidak mau ditempatkan di daerah terpencil,” kata Bapa Uskup kepada kami.
Tiga Alasan
Mengapa berangkat ke Pulau Besar? Untuk saya, setidaknya ada tiga alasan. Pertama, ini adalah wujud syukurku kepada Tuhan atas segala berkat dan kebaikan dari-Nya yang saya terima dalam hidupku selama ini. Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Aku juga mendapatkan kesempatan untuk belajar, menuntut ilmu hingga ke jenjang perguruan tinggi. Aku ingin melakukan hal kecil bukan untuk membalas, tetapi lebih untuk berbagi dan mensyukurinya. Dan kini aku bisa bisa melakukannya dalam Program Bentara Cahaya ini.
Kedua, aku ingin berbagi, pergi ke sebuah tempat yang jauh dan melakukan apa yang bisa dilakukan, semampuku dengan senang hati. Aku yakin akan ada banyak pengalaman baru di sana. Ketika saya berada di sebuah tempat yang baru tentu saya akan mengalami hal baru. Apa yang saya alami di Pulau Besar tidak akan pernah saya dapatkan di Jogjakarta. Memang berat, namun inilah kesempatan emas untuk dapat menemukan pengalaman baru.
Ketiga, tentunya tinggal di sebuah daerah selama satu tahun merupakan sebuah pengalaman istimewa untuk mendapatkan banyak sahabat dan membangun relasi dan orang-orang baru. Program ini adalah kerjasama Indosiar TV dengan Caritas Keuskupan Maumere. Tentu, aku akan bertemu dengan orang-orang baru. Itulah alasan atau motivasi membulatkan tekadku untuk menginjakkan kaki di Pulau Besar.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY14

Jumat, 08 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (4)

Setelah makan siang, Wulan dan saya bertemu lagi dengan Pak Kim. Kami foto bersama untuk meyakinkan orangtua kami bahwa program ini bukanlah sebuah tipuan belaka. Pak Kim dengan tegas bertanya, “Jadi, kapan kalian bisa berangkat? Minggu depan? Perlu buat liputan di rumah sebelum berangkat. Itu akan menjadi kenangan untuk kalian suatu hari nanti.”
Wulan dan saya terheran-heran. Begitu cepat. Apalagi, Wulan belum meminta izin kepada bapaknya. Ia juga harus menyelesaikan administrasi untuk yudisium. Sebenarnya, diperlukan 3 orang guru untuk membantu anak kelas 6 mempersiapkan ujian akhir. Untuk itu, kami sepakat untuk berusaha mencarikan seorang teman yang mau berpartisipasi dalam program ini.
Keesokan harinya kami kembali ke Jogjakarta dengan kereta. Malam harinya, aku mencoba mengajak beberapa teman mengikuti program ini. Aku ingat Cecil, Cecilia Purwita Ningsih, teman SMA ku dulu yang juga sudah lulus kuliah. Cecil kemudian bergabung dengan program ini. Jadi, sekarang kami bertiga, Wulan, Cecil dan saya sebagaimana dikatakan oleh Pak Kim menjadi pionir dan pembuat sejarah. Untuk saya, ini adalah satu kesempatan emas yang tidak datang dua kali.
Dari Jogjakarta ke Maumere
Selasa, 22 September 2014 adalah hari keberangkatan kami ke Maumere, Flores. Selain menyiapkan peralatan dan berbagai perlengkapan, yang terpenting untuk saya adalah menyiapkan fisik, mental, dan hati. Tak bisa tidak, aku harus siap untuk menghadapi berbagai tantangan. Tujuanku hanyalah satu, aku ingin membantu semampuku.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY13

Rabu, 06 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (3)

Sebelum berangkat ke kantor Indosiar, kami diminta untuk mengirimkan CV melalui e-mail. Tahap lanjutannya adalah wawancara. Pagi itu, Bu Dewi mewawancarai aku dan Wulan secara bergantian. Macam-macam pertanyaan diajukan oleh Bu Dewi. Jika membutuhkan informasi lanjutan tentang sekolah dan masyarakat di Pulau Besar, maka Bu Dewi langsung menelpon seseorang, yakni Romo Eman Embu, yang berada di Maumere, Flores, untuk mendapatkan penjelasan.
Wawancara berakhir. Aku dan Wulan saling memandang. Kami tertawa. Garis-garis rasa ragu tercetak di wajah kami.  Namun, di sana juga terlukis dengan sangat jelas kehendak yang kukuh untuk terlibat.
Wulan, seorang teman yang lucu. Dulu waktu kuliah kami tidak begitu akrab meskipun satu kelas. Hanya kami sering menyapa dengan sebuah ungkapan bahasa asing yang kami buat sendiri, tidak jelas apakah itu bahasa Mandarin, bahasa Jepang, atau bahasa Korea.
Jika Wulan tidak jadi ikut program ini, maka aku pun juga tidak akan ikut kecuali ada teman lain yang ikut. Aku tidak mau seorang diri pergi ke tempat yang jauh. Jauh dari keramaian, jauh dari keluarga, dan jauh dari kampung halaman. Hidup jauh dengan orangtua, kakak, dan juga adik tidak mengenakkan. Memang, Bapak dan Ibu tidak pernah mengekangku untuk melakukan sesuatu. Asalkan itu baik, mereka akan selalu mendukung dan memberi semangat.
Membaca satu tulisan pendek yang diberikan oleh pihak Indosiar TC tentang kehidupan dan juga kondisi di Pulau Besasr rasanya terlalu singkat. Sulit bagi saya untuk membayangkannya. Di Internet, tidak dapat saya temukan informasi tentang Pulau Besar.
Tetapi, di tempat yang masih sulit dibayangkan ini, saya akan memberikan waktu satu tahun lamanya untuk mengalami dan memiliki satu kehidupan yang berbeda dari kehidupanku saat ini. Walau demikian, saya juga sadar bahwa terkadang pikiran kita lebih menakutkan daripada kenyataan.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY12

Selasa, 05 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (2)

Wawancara di Indosiar TV
Selasa 2 September 2014, malam. Wulan dan saya naik kereta api senja jurusan Jogja-Pasar Senen, Jakarta. Kurang lebih 8 jam kami berada dalam ular besi itu. Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, kami dijemput oleh staf Indosiar menuju kantor Indosiar TV di Daan Mogot, Jakarta Barat.
Kami tiba di Indosiar pukul 05.00. Pagi itu, satu kelompok ibu-ibu sedang bersiap untuk shooting sebuah program rohani. Kami istirahat sejenak, lalu cuci muka di sebuah kamar mandi yang ditunjukkan oleh staf Indosiar tadi. Ketika itu, ada seorang perempuan petugas kebersihan di sana. Ia melihatku dengan raut muka heran lalu bertanya, “Mau ngapain, mbak? Minta bantuan kesehatan atau casting?”
“Mau ketemu Mbak Dewi,” jawab saya.
“Oh, Bu Dewi ada di lantai atas. Biasanya jam 9 baru datang,” lanjutnya sambil terus melanjutkan pekerjaan.
Yap, akhirnya di lantai atas kami bertemu dengan Bu Dewi. Lengkapnya, Dewi Yudho Miranti, kepala departemen CSR (Corporate Social Responsibility) Indosiar. Tak berapa lama, kami bertemu dengan Dirut Indosiar TV, Pak Lim Soe Kim. Beliau menjelaskan secara singkat tentang program baru dari CSR Indosiar yaitu mengutus guru-guru sekolah dasar ke daerah terpencil. Artinya, jika kami berangkat, kami adalah angkatan pertama.
“Kalian adalah pionir dan pembuat sejarah,” kata beliau dengan penuh keyakinan, memberi semangat. Kami diajaknya berkeliling ke lantai bawah kantor itu dan dikenalkan kepada beberapa staf.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY11

Senin, 04 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah

Pengumuman Singkat
Selasa, 22 Juli 2014. Siang itu aku menemani seorang temanku ujian skripsi. Selesai menunggu ujian skripsi, aku berjalan menuju sekretariat prodi PGSD Sanata Dharma. Sepintas terlihat, sebuah pengumuman yang diketik dalam kertas tidak terlalu besar. Ada sebuah gambar anak-anak kecil. Di bagian bawahnya ada tulisan seperti: “Mereka membutuhkan guru agar bisa membaca, menulis, dan berhitung. Di banyak tempat, anak-anak usia sekolah sungguh-sungguh menanti kedatangan guru. Yayasan Peduli Kasih (INDOSIAR) bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma membuka kesempatan untuk menjadi guru selama satu tahun di Pulau Besar, dekat Pulau Flores.”
Peduli Kasih Indosiar? Siapa yang tak mengenal? Selama ini aku hanya tahu bahwa Peduli Kasih bergerak dalam pelayanan kesehatan. Mengapa tiba-tiba membuka kesempatan guru mengajar di suatu daerah? Terlepas dari macam-macam pertanyaan yang tak ada jawaban jelas, akhirnya, aku mendaftarkan diri.
“Halo, ini Christina ya? Kami mendapatkan nomor dari Pak Sarkim. Ini dari Indosiar. Kalau Christina berminat mengikuti program mengajar di Pulau Besar apakah bisa ke Jakarta untuk mendapatkan penjelasan lebih detail?” suara seorang ibu sesudah aku mengangkat telpon. Aku tercengang, ada sebuah tawaran untuk bertolak lebih dalam. Mengajar di luar Jawa.
“Akan saya pertimbangkan, bu,” jawab saya singkat. Kepada beberapa teman laki-laki kusebarkan pengumuman ini. Ada yang ragu-ragu. Ada yang seolah-olah mau, namun tidak pasti. Tentu, ada yang sama sekali tidak berminat. Banyak alasan yang disampaikan, mulai dari masih ingin tinggal di Jogja sampai tidak dibolehkan orangtua. Memang, tak mudah mengajak orang apalagi dengan sesuatu belum pasti.
Tiba-tiba, seorang teman yang menanyakan penjelasan mengenai program mengajar tersebut. Tak lain, Diah Wulansari, temanku yang berbadan mungil sepertiku. Akut tak pernah menyangka Wulan akan tertarik mengajar di tempat yang jauh. Akhirnya, kami putuskan untuk bersama-sama pergi ke Jakarta.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY10

Minggu, 03 September 2017

Jengkol Buat Juragan (8)

     Perjalanan dari ladang menuju perkampungan memerlukan waktu sekitar 30 menit. Menyusuri sawah dan berjalan di sekitar air. Ketika akan menjualnya ke juragan jengkol, ternyata tidak ada di rumah. Alhasil, jengkol yang kami kumpulkan tidak bias langsung dijual. Terkadang jika tidak langsung dijual, maka berat jengkol tersebut akan susut. Hal inilah yang akan mengurangi pendapatan jika dijual terlalu lama. Jengkol yang aku kumpulkan dibawa oleh Pak Rudi. Beliau yang akan menjualkannya. Mungkin Pak Rudi kasihan padaku yang berbadan kecil ini untuk membawa jengkol yang cukup berat. Ditambah lagi dengan medan perjalanan yang penuh rintangan.
     Sesampainya di perkampungan, kami melewati jalan yang baru saja digusur. Aku berlari secepat yang aku bisa. Senang sekali rasanya bisa merasakan jalan yang lebar. Berbeda ketika aku baru pertama kali tiba di sini. Jalan ini hanya jalan setapak. Berdasarkan informasi dari penduduk sekitar, jalan ini memang dulunya pernah dilewati mobil. Semakin lama tidak terawat sehingga tertutup. Setelah 16 tahun berlalu, jalan ini dibuka kembali melalui penggusuran yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Melawi.
     Mencari jengkol hanyalah satu dari beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan di sini. Banyak yang aku dapatkan di sini. Bukan hanya sekedar pendapatan dari mencari jengkol. Kerjasama dalam satu kelompok, berempati dengan orang lain, kebersamaan, dan yang terpenting adalah berbagi. Berbagi dari kekurangan, berbagi dengan memberikan pertolongan bagi siapa saja yang memerlukan.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY9

Jengkol Buat Juragan (7)

     Beberapa hari kemudian pak Rudi mengajakku kembali untuk mencari jengkol di daerah lain yang masih ada. Bersama dengan Nia, kami bertiga berjalan menyusuri ladang hingga sampai di kebun. Beberapa pohon memang memiliki buah jengkol yang banyak tetapi buah itu masih muda. Sehingga kami masih saja berjalan untuk mencari pohon jengkol yang sudah cukup tua. SSembari menunggu Pak Rudi mencari pohon, aku dan Nia sibuk menyalakan api menggunakan getah karet. Tujuannya adalah agar tidak ada nyamuk di sekitar kami. Tak berapa lama, dahan pohon jengkol ditebang. Pak Rudi mengumpulkan jengkol ke tempat kami duduk. Akhirnya, kami mulai memukul kulit jengkol. Ada saja pohon dengan semut yang banyak. Jika seperti itu, aku lebih baik menghindari semut dengan berdiri agak jauh. Semut itu meskipun kecil namun, beberapa semut dapat menggigit kulit yang menyebabkan luka.
     Waktu terus berjalan. Tak terasa matahari sudah ada di barat segera tenggelam. Dalam perjalanan pulang, kami makan bekal nasi yang dibawa tadi. Rasa lapar kadang melanda perut. Makan di sepanjang perjalanan ini sungguh menyenangkan. Ada sensasi tersendiri. Ketika lapar atau dalam keadaan terbatas, lalu ada makanan rasanya sungguh nikmat. Hanya satu kata yang sungguh aku rasakan, syukur. Selama ini aku mungkin tidak pernah menyadari akan segala nikmat yang Tuhan berikan. Hingga dalam keadaan yang terbatas, bersyukur adalah cara yang indah untuk menikmati berkat itu.

#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY8

Sabtu, 02 September 2017

Jengkol Buat Juragan (6)

     Ada banyak jengkol yang sudah dikumpulkan kemarin. Kami memukulnya sampai habis. Jengkol ini tidak habis dipukul karena kemarin sudah malam sehingga tidak memungkinkan untuk menyelesaikannya. Setelah habis semua, kami berpindah ke tempat lain untuk mencari pohon. Pak Rudi yang memanjatnya. Aku dan Nia menunggu di tempat yang agak jauh. Seselesainya pohon itu ditebang, aku mendekat dan mulai mengumpulkan bersama-sama. Kali ini kami mengumpulkannya menjadi satu tempat. Ketika sudah terkumpul semua, kami masing-masing memukul kulit jengkolnya. Jengkol yang dipukul itulah yang akhirnya menjadi milik pribadi.
     Kami memukul jengkol tidak terlalu lama. Selesai memukul jengkol, kemudian mencari pohon lainnya. Begitulah seterusnya jika sudah habis jengkol yang dipukul. Dari siang hingga sore ini aku mendapatkan jengkol cukup banyak. Aku merasa tidak mampu membawanya. Maka aku meminta bantuan dari anak laki-laki lain untuk membawanya. Perjalanan kembali ke rumah terasa lebih cepat. Akhirnya, aku menjualnya ke tempat anak laki-laki yang membawakan jengkol tadi. Kebetulan ayahnya adalah juragan jengkol juga. Saat ini harga jengkol sudah naik menjadi delapan ribu rupiah per kilogram. Paginya aku mendapatkan hasil dari jerih payahku. Jengkol yang terkumpul ada 13 kg. Cukup banyak dari sebelumnya. Namun perjalanan yang ditempuh juga lebih jauh.
#30DWC
#30DWCJILID8


#DAY7

Jumat, 01 September 2017

Jengkol Buat Juragan (5)

     Hari semakin sore. Titik-titik hujan pun mulai jatuh. Kami memutuskan untuk pulang. Sekitar lima belas menit, kami berjalan dengan membawa jengkol. Selain berjalan di tanah, kami harus berjalan menyeberangi Sungai Sasak. Arusnya cukup deras. Sempat aku terjatuh, namun aku berdiri, berusaha terus berjalan. Akhirnya, sampai juga di tempat bibi yang menampung jengkol. Setelah ditimbang, ternyata jengkol yang aku cari sebanyak 9 kg. Wah, aku sungguh puas rasanya. Kami berteriak kegirangan. Jika ibu lainnya bisa sampai belasan bahkan puluhan kilogram. Ratna mendapat 6 kg. Luar biasa. Kali itu, bibi mengambil Rp 5.000,00/kg. Total yang aku dapat dari siang tadi hingga sore menjelang malam ini adalah Rp 45.000,00. Bukan nilainya yang membuatku senang, namun karena segala kesulitan dan hambatan yang ada boleh terlewati dengan baik.
     Malamnya aku tidur cukup nyenyak. Fisik yang sudah terkuras membuatku menjadi lelah dan tidur merupakan obatnya. Paginya aku berangkat sekolah seperti biasanya. Ada seorang guru lain, Pak Rudi namanya. Beliau honor di sekolah ini sudah sekitar sepuluh tahun lebih. Sepulang sekolah, beliau juga mencari jengkol. Bahkan aku pernah melihat beliau sampai malam hari membawa jengkol yang berat apalagi ketika itu hujan cukup lebat. Pak Rudi mengajakku untuk mencari jengkol di kebun milik orangtuanya di hulu. Aku pun menyetujui tawaran itu. Bersama  dengan anaknya, Nia serta beberapa orang kami pergi sepulang sekolah. Perjalanan kali ini cukup lama. Kami menempuh perjalanan sekitar satu jam. Kami beristirahat di sebuah pondok untuk sekedar minum kopi. Setelah istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke kebun. Kali ini menyeberangi sungai yang lebih deras daripada di dekat kampung. Lalu menuju ke atas kebun cukup tinggi.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY6

Rabu, 30 Agustus 2017

Jengkol Buat Juragan (4)

     Tak berapa lama setelah kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari pohon lain. Kami menebang pohon milik seorang juragan yang mempunyai kebun ini. Sehingga kami memang harus menjualnya ke juragan itu. Juragan itu adalah seorang ibu yang lebih sering aku panggil bibi. Sambil berjalan dan melihat-lihat, kami menemukan pohon yang lebat buahnya. Kami berhenti. Lalu menunggu Musa, pemuda tadi untuk memanjatnya. Pohon ini cukup tinggi untuk dipanjat. Terkadang ia takut juga. Beberapa dahan berhasil ditebang. Setelah ia turun, kami mengumpulkan buah jengkol ke tempat kami masing-masing. Kami bebas mengumpulkan jengkol yang mana saja. Aku memilih buah jengkol yang dekat-dekat. Setelah habis, maka jengkol masing-masing dikumpulkan di sebuah tempat lalu mulai untuk dipukul. Kayu sebagai pemukul biasanya dari dahan yang kecil. Lagi-lagi, aku mendapat bantuan. Seorang ibu memberikan kayu pemukulnya. Maklum, bagiku pergi ke kebun atau hutan seperti ini merupakan pengalaman baru. Tidak cukup satu kali memukulnya. Beberapa kali dipukul hingga kulit jengkol itu terbuka. Setelah itu, dibuka kulitnya dan hanya diambil buahnya. Lalu masukkan ke kampil itu. Hal yang paling mengganggu adalah suara nyamuk yang ada di sekitar pohon. Selain itu, getah jengkol juga akan menempel di tangan.
      Aku memukul-mukul tiap buah jengkol sedikit demi sedikit hingga akhirnya semua jengkol yang menjadi bagianku selesai dibuka kulitnya. Lelah, pasti. Setelah itu, kami harus berpindah tempat lagi. Ketika itu cuaca sedikit mendung. Hap, cukup berat juga kampil yang harus kubawa ini. Masing-masing orang memang bertanggung jawab untuk membawa jengkolnya. Ada sebuah tali kampil yang diletakkan di kepala. Rasanya kepalaku sudah mau pecah saja. Tak mampu untuk membawanya. Namun dengan penuh semangat melihat orang lain bisa, maka aku juga harus berjuang membawanya. Di tempat lain, mereka ternyata sudah mengumpulkan jengkol. Hanya tinggal membukanya saja. Aku membantu istri kepala sekolah untuk memukul kulit jengkol.
     Ikuti keseruan ceritanya pada bagian selanjutnya ya.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY5

Selasa, 29 Agustus 2017

Jengkol Buat Juragan (3)

     Berjalan dan terus berjalan. Itulah yang harus dilakukan sampai menemukan pohon yang tepat. Kemampuan fisik memang harus kuat untuk terus berjalan sambil membawa jengkol di sebuah keranjang. Masyarakat lokal sering menyebutnya kampil. Aku mendapat pinjaman kampil dari istri kepala sekolah yang sangat baik. Ia juga ikut dalam kelompok ini untuk mencari jengkol. Ketika kita mencari jengkol, tidak boleh menebang sembarang pohon yang bukan menjadi hak kita. Jika hal itu dilanggar, seseorang bisa terkena hukum adat yang akhirnya mendapat denda untuk membayar. Hal itu justru akan sangat merugikan, bukan? Kita mau mencari uang, malah diminta untuk membayar.
      Sebuah pohon akhirnya menjadi pertimbangan kami. Seorang anak laki-laki muda yang tangguh menebang pohon itu. Setelah ditebang, maka kami mengumpulkan jengkol masing-masing. Buah jengkol yang dikumpulkan masing-masing itulah yang akan menjadi milik individu. Namun tiba-tiba semut yang cukup besar menggigit kulitku. Waw, ternyata banyak sekali semut yang ada di pohon itu. Meskipun ditunggu, semut itu tetap saja masih disana. Perlu waktu beberapa hari agar semut itu hilang. Hanya beberapa orang saja yang tetap mengumpulkan jengkol. Jujur, aku sudah tak mampu lagi karena gigitan si hewan kecil itu secara keroyokan. Tenagaku sungguh cukup terkuras. Kami duduk bersama dan mulai istirahat. Mereka memawa bekal makanan dari rumah. Ada yag membawa sayur rebung, dadar telur ataupun ikan. Aku tak membawa apa-apa. Hanya sebotol air minum. Seorang ibu memberikanku nasi dan juga sayur rebung. Aku mencoba untuk memakannya. Ternyata nyaman sekali rasanya. Kata ‘nyaman’ memang bisa dipakai juga untuk makanan yang artinya enak. Sungguh, ada sensasi yang berbeda ketika makan di ladang. Di lain itu, aku belajar tentang kebersamaan dalam mencari penghasilan. Tidak ada yang serakah ataupun egois. Berbagi. Berbagi  dalam sebuah keterbatasan. Ratna menikmati makan siangnya kali itu. Ia belum makan sejak kami berangkat tadi. Aku tidak bisa membayangkan dulu ketika aku masih SD kelas 3. Terbersit sebuah pertanyaan. Mampukah aku untuk ikut bekerja sekeras ini? Di lain sisi, fisik mereka memang sudah kuat karena lingkunganlah yang membentuk mereka untuk kuat.
     Ingin tahu perjuangan dalam mencari jengkol selanjutnya? Tunggu bagian lainnya.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY4

Jengkol Buat Juragan (2)

      Jengkol menjadi salah satu hasil perkebunan yang cukup banyak. Ketika itu banyak buah jengkol yang sudah tua. Orang berlomba-lomba untuk mendapatkan jengkol. Saat itu jengkol masih dibeli dengan harga Rp 4.000,00/kg. Harga yang cukup murah, tidak sebanding dengan kesulitan saat mencarinya. Aku sangat antusias untuk mengikuti masyarakat di sana mencari jengkol. Sepulang sekolah aku memutuskan untuk ikut sebuah kelompok mencari jengkol. Orang-orang itu sudah pergi sejak pagi hari, maka aku ditemani Ratna menyusul ibunya yang ikut dalam kelompok itu. Ratna masih kelas 3 SD, namun ia mampu naik turun bukit menyusuri hutan untuk mencari ibunya. Bahkan, ia juga akan ikut mencari jengkol.
     Aku membawa sebuah keranjang untuk tempat jengkol. Cukup lama kami berjalan mencari kelompok yang mencari jengkol. Sebelum kami bertemu dengan ibunya Ratna, kami bertemu dengan kelompok lain yang sedang memukul jengkol dari kulitnya. Cara memukulnya menggunakan kayu. Setelah terbuka jengkolnya maka buahnya yang diambil. Jika salah-salah dalam memukul, bisa jadi tangan kita yang menjadi korban.
     Kami berjalan sekitar lima belas menit, lalu Ratna memanggil nama ibunya, “Umaaak… Umaaakk…”. Tak berapa lama, ibunya Ratna pun menjawab. Kami berjalan mengikuti arah suara itu. Ternyata mereka sedang membuka jengkol yang baru saja dikumpulkan. Pohon jengkol bisa dipanjat dan ditebang dahannya atau bisa juga langsung ditebang. Kerugiannya jika ditebang dari bawah adalah akan lama untuk tumbuh lagi. Ketika itu aku langsung membaur dan mendapat jengkol untuk dibuka kulitnya. Sebenarnya tidak bisa langsung mengambil karena aku tidak ikut mengumpulkan jengkol. Namun seorang ibu berbaik hati memberikan jengkolnya. Setelah jengkol semuanya habis dipukul, maka kita harus berpindah tempat lain untuk mencari pohon yang lainnya. Ternyata tidak sembarang pohon bisa ditebang. Kita harus mencari pohon yang memiliki buah jengkol tua dan cukup banyak buahnya.
     Bagaimana kelanjutannya? Nantikan di bagian selanjutnya.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY3

Minggu, 27 Agustus 2017

Jengkol Buat Juragan

     Jongkong. Dusun tempatku bertugas. Sebuah tempat yang indah, dikelilingi oleh pepohonan yang hijau. Daerah ini berada di tepi Sungai Sasak, Kecamatan Sayan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Sebelum ada penggusuran jalan, dari ibukota Melawi dapat ditempuh selama 5 jam. Tidak berapa lama setelah aku tinggal di Jongkong, ada penggusuran jalan sehingga jika akan ke Nangapinoh, ibukota kabupaten hanya 3 jam saja. Jarak Jongkong dengan kampung lain cukup jauh, kira-kira sekitar setengah jam jika cepat. Daerah ini hanya terdapat 2 RT saja, aku berada di RT 2 atau kadang orang mengatakan hulu. Sedangkan RT lainnya sering disebut hilir. Aku tinggal di sebuah rumah guru. Sekolah di sana hanya ada SD, SDN 3 Jongkong namanya. Letak SD dengan rumah guru hanya bersebelahan sehingga aku cukup dengan berjalan kaki menuju ke sekolah.
     Sebagian masyarakat di sana bermatapencaharian sebagai petani ladang. Jika siang hari, daerah ini cukup sepi. Banyak juga yang memang tidur di ladang. Anak-anak paling suka jika mereka pergi ke ladang. Mereka bisa ermain, makan di ladang dan juga mencari sayuran. Ketika itu aku terkejut melihat anak-anak sepulang mereka sekolah, mereka pergi ke ladang bersama-sama. Ternyata mereka akan mencari jengkol untuk dijual. Aku merasa heran sekaligus salut pada anak-anak yang sejak kecil sudah membantu orang tua mereka mencari uang. Apalagi ditambah kemampuan fisik mereka yang luar biasa. Tempat mereka mencari jengkol ada yang dekat namun ada juga yang harus menempuh perjalanan jauh, sekitar satu jam.
      Bagaimana cerita selanjutnya? Besok akan saya lanjutkan. Sabar ya. Hehehe

#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY2

Memanjakan Diri

    Apa yang kita lakukan untuk mengisi waktu luang? Sebagai perempuan, saya memilih untuk pergi ke sebuah salon. Memanjakan diri dengan memberikan tubuh ini beristirahat. Berbagai rutinitas dan kegiatan fisik lainnya membuat tubuh ini terasa lelah.
     Siang itu saya pergi ke sana dan ternyata ada paket hemat dengan berbagai perawatan. Mulai dari masker rambut, pijat, lulur, dan masker badan. Ketika itu, antrian cukup panjang yang memaksa untuk menunggu. Tak terasa mata ini mulai terlelap. Hingga ada suara yang membangunkan.
     Hal pertama yang dilakukan adalah keramas, lalu masker rambut. Pijat badan dilakukan selama setengah jam. Dilanjutkan lulur dan masker badan. Rasanya badan menjadi segar dan bersih.
      Mengapa kita perlu memanjakan diri? Memanjakan diri merupakan salah satu cara untuk menghargai diri kita. Inilah awal dari cara kita juga menghargai orang lain. Memanjakan diri berarti memberikan perhatian terhadap diri kita sendiri. Selain itu juga, sebagai bentuk penyegaran dari segala hiruk pikuk pekerjaan.
      Sebenarnya banyak perawatan yang bisa dilakukan. Namun yang terpenting dari semuanya itu adalah kebersihan kulit.
     Saya bekerja selama setahun di daerah pedalaman. Sekarang saya telah kembali ke kota dengan segala keramaiannya. Pergi ke salon dan memanjakan diri merupakan hal yang benar-benar ingin saya lakukan. Berteman dengan debu dan dikelilingi hutan merupakan hal yang sehari-hari dilihat. Tentunya banyak hal yang dilakukan untuk memanjakan diri. Misalnya karaoke, menonton film, wisata kuliner, pergi ke tempat wisata alam, dan masih banyak lagi.
     Tips untuk ke salon:
1. Lebih baik pesan dulu daripada antri terlalu lama di tempat. Misalnya lewat telfon.
2. Menggunakan pakaian yang nyaman dan santai.
3. Jika memiliki rambut panjang, bawalah ikat rambut.
4. Jika memiliki kartu anggota, lebih baik jangan memilih perawatan yang paket atau promo. Biasanya kartu anggota tidak bisa digunakan jika untuk paket atau promo.
5. Meninggalkan segala pikiran-pikiran lainnya dan menikmati perawatan untuk memanjakan diri.
     Bagaimana? Tertarik untuk memanjakan diri dengan pergi ke salon?
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY1