Minggu, 03 September 2017

Jengkol Buat Juragan (7)

     Beberapa hari kemudian pak Rudi mengajakku kembali untuk mencari jengkol di daerah lain yang masih ada. Bersama dengan Nia, kami bertiga berjalan menyusuri ladang hingga sampai di kebun. Beberapa pohon memang memiliki buah jengkol yang banyak tetapi buah itu masih muda. Sehingga kami masih saja berjalan untuk mencari pohon jengkol yang sudah cukup tua. SSembari menunggu Pak Rudi mencari pohon, aku dan Nia sibuk menyalakan api menggunakan getah karet. Tujuannya adalah agar tidak ada nyamuk di sekitar kami. Tak berapa lama, dahan pohon jengkol ditebang. Pak Rudi mengumpulkan jengkol ke tempat kami duduk. Akhirnya, kami mulai memukul kulit jengkol. Ada saja pohon dengan semut yang banyak. Jika seperti itu, aku lebih baik menghindari semut dengan berdiri agak jauh. Semut itu meskipun kecil namun, beberapa semut dapat menggigit kulit yang menyebabkan luka.
     Waktu terus berjalan. Tak terasa matahari sudah ada di barat segera tenggelam. Dalam perjalanan pulang, kami makan bekal nasi yang dibawa tadi. Rasa lapar kadang melanda perut. Makan di sepanjang perjalanan ini sungguh menyenangkan. Ada sensasi tersendiri. Ketika lapar atau dalam keadaan terbatas, lalu ada makanan rasanya sungguh nikmat. Hanya satu kata yang sungguh aku rasakan, syukur. Selama ini aku mungkin tidak pernah menyadari akan segala nikmat yang Tuhan berikan. Hingga dalam keadaan yang terbatas, bersyukur adalah cara yang indah untuk menikmati berkat itu.

#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar