Minggu, 24 September 2017

Lelah Setengah Mati (3)

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Setiap daerah memiliki aturannya masing-masing. Aku sebagai orang baru di sini tentunya berusaha untuk mengikuti tata acara yang ada di tempat ini. Keterampilan sosial merupakan salah satu kunci agar kita bisa masuk ke dalam situasi lingkungan yang baru. Sebagian besar masyarakat di sini adalah seorang petani ladang. Saat itu beberapa keluarga memang sedang nugal atau tabur benih. Jika di sini, nugal bisa diikuti oleh 30an sampai 50an orang. Aku berusaha mengikuti Bu Priska ke tempat orang yang nugal untuk membantu masak di sana. Meskipun aku hanya ikut saja, namun aku mulai bertemu dengan lebih banyak orang baru. Aku mencoba untuk membantu pekerjaan yang aku pikir bisa aku lakukan.
Menjadi guru SM-3T bukan hanya berada di kelas. Lebih daripada itu, menjadi guru yang menembus tembok-tembok itu dan membaur dengan masyarakat lokal. Aku menyadari di sini memang bukan tempatku bertugas namun aku mendapatkan keluarga baru di sini. Beberapa hari di Landau Sadak, aku mengenal banyak orang. Sempat waktu itu aku ikut ke ladang untuk melihat proses nugal yang dilakukan orang-orang. Para bapak membawa kayu yang ujungnya dibuat runcing. Sambil berjalan, mereka membuat lubang di tanah menggunakan kayu itu. Bagi yang perempuan, membawa benih padi untuk ditaburkan di tempat yang sudah dibuat oleh bapak-bapak tadi. Jangan kira jalannya hanya lurus saja. Ladang di sini cukup luas dan posisinya juga miring. Jadi nugal ini jalannya harus turun, lalu naik, lalu turun lagi. Melelahkan bukan? Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat sekitar. Jadi jika aku melihat saja sudah lelah, mereka bahkan tidak pernah mengeluh lelah. Lingkungan perbukitan seperti ini tentu sudah melatih fisik orang-orang di sini menjadi lebih kuat. Terkadang aku malu pada diriku sendiri melihat orang yang lebih tua dariku saja masih semangat untuk naik turun tabur benih.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar