Pernahkah kamu membayangkan tinggal di suatu tempat yang tidak kamu kenal sebelumnya? Pernahkah kamu memikirkan sebuah tempat yang nun jauh disana? Tinggal sendirian tanpa orang yang belum kamu kenal. Bertemu dengan masyarakat yang berbeda suku dan bahasa. Aku pernah.
Bahasa menjadi kunci penting bagi komunikasi. Mereka khususnya yang masih anak-anak dan juga orang tua, tentu tidak terlalu bisa menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Aku pernah tinggal di 2 tempat yang sunggu berbeda. Yang satu di sebuah pulau, tepi laut. Pulau itu adalah Pulau Besar, sebelah utara Maumere, Flores. Yang satunya adalah sebuah pelosok pegunungan di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.
Aku tinggal di kedua tempat tersebut masing-masing sekitar satu tahun lamanya. Hal yang membedakan anak-anak di pantai dan di gunung adalah karakteristik sifatnya. Anak-anak pantai cenderung berani, ekspresif dan penuh semangat. Sedangkan anak-anak gunung cenderung lebih pemalu, dan bekerja keras membantu orang tua mereka.
Hal yang sama ketika aku berada di dua tempat itu adalah membuat kamus pribadi. Aku berusaha untuk memahami kearifan lokal dan juga masyarakat di sana melalui bahasa daerah. Ketika di NTT aku membuat kamus bahasa Sikka. Sikka adalah nama kabupatennya dan juga salah satu suku di daerah sana. Berbeda dengan Kalimantan yang sebagian adalah suku Dayak. Suku Dayak memiliki banyak sub suku lagi yang tentunya memiliki bahasa yang berbeda. Sebagian masyarakat tempatku tinggal merupakan Dayak Pangin. Aku meminta anak-anak untuk membantuku membuat kamus bahasa Dayak Pangin.
Alhasil, akupun mulai belajar bahasa melalui kamus pribadiku yang aku buat dari bantuan orang sekitar. Tentunya masih banyak bahasa daerah lainnya di tanah ibu pertiwi ini. Bahasa daerah apa saja yang sudah kamu ketahui? Siapa yang akan peduli, jika bukan kita. Atau menunggu sampai direbut bangsa lain?
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar