Jumat, 15 September 2017

Pionir dan Pembuat Sejarah (10)

Ada banyak pengalaman. Satu di antaranya yaitu pada suatu pagi waktu akan masuk sekolah, aku melihat seorang anak perempuan kelas 1 bernama Stella sedang menangis. Aku menanyakan alasannya menangis. Lalu ia mengatakan bahwa Santus, seorang teman laki-laki, telah memukulnya. Kemudian aku mendekati Santus dan dengan hati-hati, aku berbicara kepadanya agar meminta maaf pada Stella. Santus dengan cepat mendekati Stella dan meminta maaf kepadanya. Ini adalah suatu kejadian mengesankan saya. Aku mengalami bahwa aku bisa menyentuh hati anak-anak, karenanya mereka melakukan yang baik yang saya ajarkan.
Setiap malam, anak-anak belajar di rumah guru. Ketika lampu listrik menyala, tidak berapa lama anak-anak akan mengetuk pintu sambil memanggil nama kami. Kami mendampingi mereka belajar. Kadang mereka secara halus kami minta pulang kalau sudah agak larut malam. Benar, anak-anak haus pengetahuan. Mereka haus bimbingan. Dan pengalaman-pengalaman seperti ini membuat saya sungguh meraskan apa artinya menjadi mengajar, apa artinya menjadi seorang pendidik.
Satu Kata: Syukur!
Saya tinggal di Pulau Besar selama satu tahun. Ada banyak hal yang menjadi pembelajaran bagi hidup saya selanjutnya.  Hubungan dengan guru-guru di SDK Gusung Karang dan guru-guru di gugus sangat baik. Saya dapat meminta bantuan kepada mereka ketika saya mengalami kesulitan. Ketika saya mengajar di sekolah yang letaknya di Gusung Karang yang jaraknya kurang lebih 30 menit berjalan kaki, guru-guru di sana  mengajak saya  singgah di rumah mereka. Dalam mengajar pun, banyak hal yang saya tanyakan baik mengenai metode pengajaran yang selama ini dipakai hingga cara menangani anak-anak. Di Pulau Besar, selama setahun saya ada bersama dan bekerja dengan orang-orang baik.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar