Wawancara berakhir. Aku dan Wulan saling memandang. Kami tertawa. Garis-garis rasa ragu tercetak di wajah kami. Namun, di sana juga terlukis dengan sangat jelas kehendak yang kukuh untuk terlibat.
Wulan, seorang teman yang lucu. Dulu waktu kuliah kami tidak begitu akrab meskipun satu kelas. Hanya kami sering menyapa dengan sebuah ungkapan bahasa asing yang kami buat sendiri, tidak jelas apakah itu bahasa Mandarin, bahasa Jepang, atau bahasa Korea.
Jika Wulan tidak jadi ikut program ini, maka aku pun juga tidak akan ikut kecuali ada teman lain yang ikut. Aku tidak mau seorang diri pergi ke tempat yang jauh. Jauh dari keramaian, jauh dari keluarga, dan jauh dari kampung halaman. Hidup jauh dengan orangtua, kakak, dan juga adik tidak mengenakkan. Memang, Bapak dan Ibu tidak pernah mengekangku untuk melakukan sesuatu. Asalkan itu baik, mereka akan selalu mendukung dan memberi semangat.
Membaca satu tulisan pendek yang diberikan oleh pihak Indosiar TC tentang kehidupan dan juga kondisi di Pulau Besasr rasanya terlalu singkat. Sulit bagi saya untuk membayangkannya. Di Internet, tidak dapat saya temukan informasi tentang Pulau Besar.
Tetapi, di tempat yang masih sulit dibayangkan ini, saya akan memberikan waktu satu tahun lamanya untuk mengalami dan memiliki satu kehidupan yang berbeda dari kehidupanku saat ini. Walau demikian, saya juga sadar bahwa terkadang pikiran kita lebih menakutkan daripada kenyataan.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar