Aku mendaftarkan diri melalui LPTK UNY yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalku di Yogyakarta. Setelah melalui seleksi yang cukup lama, maka aku terpilih menjadi salah satu guru SM-3T. Namun, masih ada tahapan akhir yang harus aku lalui yakni prakondisi. UNY bekerjasama dengan AAU Adisudjipto untuk menyelenggarakan pelatihan ini. Tujuan dari prakondisi yakni melatih mental, fisik, serta pembekalan berbagai materi yang sangat berguna ketika berada di penempatan nantinya. Selama sekitar 17 hari di AAU ini, kami dilatih secara semi militer. Misalnya saja ketika jam makan harus berbaris menuju tempat makan. Jangan ditanya, porsi yang diberikan bagiku itu cukup banyak. Jika tidak bisa menghabiskan, pembina akan memberikan air ke dalam ‘ompreng’. Ompreng adalah sebuah tempat makan dari bahan aluminium yang berisi nasi, sayur, lauk, buah, dan juga minuman. Sebenarnya makanan itu sangat menyehatkan. Namun di sisi lain terkadang perut ini masih kenyang untuk diisi makanan sebanyak itu. Alhasil, pada makan malam pertama pun aku tak mampu menghabiskan makanan itu.
Dalam keluargaku, aku tidak pernah dipaksa atau dididik dengan kekerasan. Hal ini berbeda dengan di AAU. Kerap kali aku mendengar teriakan, sindiran, serta hukuman fisik. Awalnya memang ini hal yang sangat tidak membuatku nyaman. Hari kedua membuat semangatku redup hingga hampir putus asa. Di sela-sela istirahat, seorang pelatih menghampiriku dan memberiku motivasi serta pemahaman bahwa ini hanya pembentukan mental, jadi tidak usah diambil hati. Beberapa pelatih yang lain selalu memberikanku semangat setiap hari dan menempaku menjadi pribadi yang tahan uji. Akhirnya, aku bisa berdamai dengan keadaan dan menjalani hari-hari di AAU dengan senang. Tak terasa pelatihan di AAU hampir selesai. Kami akan ditugaskan ke pelosok negeri.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar