Dalam beberapa minggu awal di Pulau Besar aku merasa kesulitan dalam mengajar di sebuah kelas. Sebagian anak sudah bisa membaca namun sebagian lainnya belum hafal huruf. Mereka belum bisa membaca dengan lancar. Akhirnya, aku memisahkan anak yang sudah bisa baca dengan yang belum bisa baca. Anak-anak yang sudah bisa baca perlu mendapatkan pengayaan dengan lebih banyak baca dan berlatih. Sedangkan anak-anak yang belum bisa baca, perlu pendampingan khusus untuk mengenal huruf.
Di SDK Gusung Karang, saya mengajar pagi hingga siang. Sore harinya, saya mengajar ekstrakurikuler catur. Kegiatan-kegiatan sore hari yang kami buat antara lain mengembangkan majalah dinding, musik, Bahasa Inggris, dan pramuka. Malam hari, anak-anak belajar di rumah kami. Hal lain yang kami lakukan adalah menata ulang perpustakaan sekolah sehingga anak-anak dengan mudah meminjam buku-buku. Setiap hari Sabtu, ada pemeriksaan gigi dan kuku murid-murid. Setelah itu senam dan dilanjutkan dengan olahraga. Pada hari itu juga dilakukan kegiatan membersihkan lingkungan sekolah. Untuk menumbuhkan semangat dan daya kompetisi di antara siswa, kami juga mengadakan berbagai perlombaan sebelum liburan kenaikan kelas.
Saya berusaha memberikan motivasi-motivasi sederhana untuk murid-murid saya. Salah satunya mendorong mereka untuk membaca. Suatu waktu, aku mengatakan bahwa kalau ada hal yang kita tidak tahu, maka kita dapat bertanya pada buku. Kala itu seorang murid, Adven namanya, langsung menatap bukunya sambil berkata, “Buku, ganupae?” artinya buku, bagaimana ini? Aku tak pernah membayangkan ada anak sekreatif dan lucu seperti ini. Karena itu, saya harus menjelaskan bahwa yang saya maksudkan bertanya kepada buku adalah dengan cara membaca buku-buku.
#30DWC
#30DWCJILID8
#DAY19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar